Nelayan Bandung Mencabut Bambu Budidaya Kerang Kenapa?

Nelayan Bandung Mencabut Bambu Budidaya Kerang, Kenapa?

Bandung, 25 Maret 2025 – Pemandangan tak biasa terjadi di salah satu sentra budidaya kerang di kawasan Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Para nelayan terlihat mencabut bambu-bambu penyangga budidaya kerang mereka secara massal. Aksi itu sontak mengundang pertanyaan publik: kenapa para nelayan mencabut sendiri fasilitas budidaya yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka?

Menurut penelusuran di lapangan, ternyata pencabutan bambu ini bukan aksi spontan atau bentuk protes, melainkan langkah terpaksa akibat berbagai masalah yang mereka hadapi dalam beberapa bulan terakhir.

1. Penurunan Kualitas Air Waduk

Salah satu alasan utama para nelayan mencabut bambu kerang adalah karena penurunan drastis kualitas air waduk. Limbah rumah tangga, limbah peternakan, dan pencemaran dari aktivitas industri di sekitar kawasan waduk menyebabkan air menjadi keruh dan berbau, sehingga kerang tak bisa tumbuh dengan optimal.

“Dulu satu bulan bisa panen, sekarang tiga bulan pun nggak jelas hasilnya. Kerangnya banyak yang mati,” ujar Ujang, nelayan setempat yang sudah 7 tahun membudidayakan kerang.

2. Serangan Hama dan Penyakit

Dalam beberapa bulan terakhir, kerang budidaya di kawasan tersebut diserang hama mikroorganisme air dan bakteri yang membuat cangkang kerang mudah pecah dan isinya membusuk. Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi para nelayan karena kerang yang dipanen tidak layak jual.

3. Lesunya Harga Pasar

Tak hanya dari sisi produksi, para nelayan juga mengeluhkan harga kerang yang anjlok di pasaran. Sebelumnya, harga kerang per kilogram bisa mencapai Rp15.000, namun kini hanya berkisar Rp7.000–Rp8.000. Biaya perawatan, pembelian bibit, dan bambu pun tak sebanding dengan penghasilan.

4. Tidak Ada Bantuan atau Solusi Jangka Panjang

Para nelayan juga mengaku kecewa karena belum ada respon konkret dari pemerintah daerah maupun dinas kelautan dan perikanan terkait masalah ini. Mereka merasa berjuang sendiri di tengah tekanan ekonomi dan kerusakan lingkungan.

“Kami capek. Kalau begini terus, mending cabut saja semua bambu. Daripada rugi terus,” tambah Dedi, salah satu tokoh kelompok nelayan.

Harapan untuk Dukungan dan Perbaikan Ekosistem

Para nelayan berharap ada tindakan nyata dari pemerintah untuk merevitalisasi kualitas air waduk, memberi edukasi tentang budidaya ramah lingkungan, serta membuka akses pasar yang lebih stabil dan menguntungkan.

Beberapa di antaranya mulai beralih ke usaha perikanan lain seperti budidaya ikan nila atau memanfaatkan bambu-bambu tersebut untuk keperluan rumah tangga.

Aksi mencabut bambu bukan sekadar pembongkaran tambak, tetapi simbol keputusasaan dan kebutuhan akan perubahan. Di balik air yang tenang di Waduk Saguling, tersimpan kegelisahan para nelayan yang menggantungkan hidupnya pada alam yang semakin tak bersahabat.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa