Mitigasi Bencana Erupsi Dingin: Ancaman yang Sering Terabaikan

Indonesia, dengan puluhan gunung api aktif, menghadapi ancaman erupsi panas yang jelas dan terukur. Namun, ada ancaman lain yang sering terabaikan, yaitu erupsi dingin atau lahar dingin ( lahar ). Erupsi dingin adalah aliran material vulkanik lepas, seperti abu, pasir, dan batu, yang bercampur dengan air hujan di lereng gunung, membentuk aliran deras seperti beton cair. Peristiwa ini sangat berbahaya karena dapat terjadi kapan saja, terutama saat intensitas hujan tinggi, dan seringkali melanda kawasan yang berada jauh dari puncak gunung. Oleh karena itu, strategi Mitigasi Bencana harus diperluas untuk mencakup ancaman sekunder ini, yang dapat merusak infrastruktur vital dan merenggut nyawa di luar zona bahaya utama.

Salah satu tantangan terbesar dalam Mitigasi Bencana erupsi dingin adalah kecepatan dan daya rusaknya. Aliran lahar dingin dapat bergerak sangat cepat, membawa material besar, dan memiliki daya kikis yang tinggi. Kasus lahar dingin pasca-erupsi gunung api di wilayah Jawa Tengah pada tahun 2010 menunjukkan bahwa aliran lahar mampu merusak puluhan jembatan dan ratusan rumah dalam waktu kurang dari dua jam. Untuk mengatasi ancaman ini, Mitigasi Bencana memerlukan solusi struktural dan non-struktural. Solusi struktural melibatkan pembangunan sabodam (bendung penahan lahar) di hulu sungai dan alur-alur lahar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menargetkan penambahan 20 unit sabodam di kawasan rawan lahar dingin hingga akhir tahun anggaran 2026.

Di sisi non-struktural, Mitigasi Bencana erupsi dingin sangat bergantung pada sistem peringatan dini berbasis curah hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat pengukur curah hujan (rain gauge) otomatis di lereng gunung. Jika curah hujan melebihi ambang batas yang ditetapkan (misalnya, lebih dari 60 mm/jam), peringatan dini segera disiarkan. Kepala Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana di Kabupaten setempat, Bapak Wahyu Pratama, menyatakan bahwa sirine peringatan lahar dingin diaktifkan pada tanggal 10 April 2025 pukul 15.30 WIB, yang berhasil menggerakkan warga untuk segera menjauhi bantaran sungai.

Selain itu, kerja sama lintas sektor sangat vital. Aparat Kepolisian Sektor (Polsek) dan Komando Rayon Militer (Koramil) di wilayah terdampak memiliki peran penting dalam mengamankan jalur evakuasi dan mencegah warga atau penambang pasir memasuki alur sungai saat peringatan lahar dingin dikeluarkan. Petugas keamanan secara rutin melakukan patroli di sepanjang sungai yang menjadi jalur lahar setiap hari Selasa dan Rabu. Melalui perpaduan antara rekayasa teknik sabodam, sistem peringatan dini berbasis hidrologi, dan disiplin aparat serta masyarakat, ancaman erupsi dingin dapat dikelola secara efektif, mencegahnya menjadi bencana besar yang merenggut nyawa.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa