Gedung Sate di Bandung selama ini dikenal sebagai ikon arsitektur kolonial yang megah, namun di balik keindahan ornamen tusuk satenya, tersimpan Rahasia Bunker tersembunyi di bawah tanah yang jarang diketahui oleh masyarakat luas. Berdasarkan catatan sejarah dan penelusuran tim ahli cagar budaya pada Rabu, 11 Februari 2026, struktur bawah tanah ini diduga kuat dibangun sebagai area perlindungan taktis pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Meski selama puluhan tahun aksesnya terbatas, penelitian terbaru mengungkapkan adanya jaringan lorong yang memiliki sistem sirkulasi udara yang masih berfungsi dengan baik. Kehadiran ruang-ruang bawah tanah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti yang ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana sistem pertahanan masa lalu dirancang dengan sangat rapi dan kokoh tepat di jantung pusat pemerintahan Jawa Barat.
Penyelidikan mengenai ruang bawah tanah ini melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk koordinasi dengan petugas kepolisian setempat untuk menjamin keamanan di area yang merupakan objek vital nasional tersebut. Dalam sebuah simulasi pengamanan yang dilakukan oleh personel dari jajaran Polrestabes Bandung pada pukul 09:00 WIB di area halaman belakang gedung, terungkap bahwa akses masuk menuju lorong tersebut berada di lokasi yang sangat tersamar oleh struktur bangunan asli. Petugas kepolisian yang berjaga di lokasi bersama tim teknis dari dinas purbakala memastikan bahwa setiap langkah eksplorasi terhadap Rahasia Bunker tersebut dilakukan dengan standar keamanan tinggi agar tidak merusak fondasi bangunan cagar budaya yang sudah berdiri sejak tahun 1920 ini. Pengawalan ketat ini membuktikan bahwa keberadaan bunker tersebut merupakan aset sejarah yang dilindungi oleh negara dengan protokol yang sangat serius.
Bunker ini memiliki spesifikasi teknis yang cukup mencengangkan untuk ukuran teknologi zamannya, dengan ketebalan dinding beton yang mencapai lebih dari 50 sentimeter. Para peneliti menemukan bahwa di dalam Rahasia Bunker ini terdapat ruang-ruang kecil yang diduga berfungsi sebagai pusat komunikasi atau penyimpanan dokumen rahasia pada masa perang. Kondisi suhu di dalam lorong cenderung stabil dan dingin, meskipun cuaca di luar gedung sedang terik. Penemuan sisa-sisa instalasi kabel tua dan lampu-lampu antik di sepanjang plafon lorong semakin memperkuat bukti bahwa area bawah tanah ini pernah dioperasikan secara aktif sebagai pusat komando darurat. Hingga saat ini, pihak pengelola gedung terus berupaya mengumpulkan data faktual untuk menyusun narasi sejarah yang akurat bagi publik.