Bandung kini menghadapi krisis lingkungan yang parah seiring dengan maraknya pembangunan resort mewah di wilayah utara yang seharusnya menjadi daerah resapan air. Pembangunan masif di area perbukitan telah mengubah fungsi lahan hijau menjadi bangunan beton, sehingga menyebabkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan menurun drastis. Dampaknya, banjir kiriman yang membawa material lumpur menjadi pemandangan rutin bagi masyarakat di dataran rendah setiap kali intensitas hujan meningkat di kawasan tersebut.
Kawasan Cekungan Bandung yang dulunya rimbun dan berfungsi sebagai pengatur tata air kini semakin gersang. Para pengembang Resort Mewah sering kali mengabaikan analisis dampak lingkungan (Amdal) demi mengejar keuntungan dari keindahan pemandangan alam. Hilangnya vegetasi penahan tanah dan pengerasan permukaan lahan akibat konstruksi besar-besaran membuat siklus hidrologi alami terputus. Hal ini tidak hanya memicu banjir, tetapi juga menurunkan cadangan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh warga sekitar untuk pemenuhan kebutuhan air bersih sehari-hari dalam jangka panjang.
Diperlukan langkah tegas dari pemerintah daerah untuk menghentikan izin pembangunan di zona resapan air yang kritis. Restorasi lahan dengan menanam kembali pohon-pohon penahan air harus dilakukan segera sebelum kerusakan menjadi permanen. Pengawasan ketat terhadap operasional Resort Mewah yang sudah berdiri juga harus dilakukan agar mereka wajib menyediakan sistem drainase yang mampu mengembalikan air ke dalam tanah, bukan membuangnya langsung ke sungai yang justru akan mempercepat debit air banjir di hilir. Integritas kebijakan tata ruang harus di atas segalanya demi keberlangsungan hidup penduduk kota.
Masyarakat harus sadar bahwa kemewahan fasilitas wisata tidak sebanding dengan hilangnya ekosistem pendukung kehidupan. Tekanan publik kepada pengambil kebijakan untuk membatalkan proyek-proyek yang merusak kawasan lindung sangat diperlukan. Mari kita jaga sisa ruang terbuka hijau di Bandung agar tidak terus tergerus oleh ambisi pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Dengan perlindungan yang nyata terhadap wilayah resapan, kita dapat memastikan bahwa generasi masa depan di Bandung tetap memiliki sumber air yang mencukupi dan tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan menghadapi banjir akibat hilangnya lahan resapan demi proyek resort yang tidak memikirkan keseimbangan alam.