Limbah Rumah Tangga Cemari Sungai Citarum Selama Ramadan
Sungai Citarum yang legendaris di Jawa Barat kembali menghadapi ujian berat tepat di saat masyarakat sedang khusyuk menjalankan ibadah puasa. Masalah Limbah Rumah Tangga yang mengalir ke sungai terpanjang di Jawa ini terpantau meningkat drastis dibandingkan hari-hari biasa. Meningkatnya aktivitas dapur dan pola konsumsi warga selama bulan Ramadan ternyata berdampak langsung pada volume sampah organik maupun anorganik yang dibuang ke aliran air. Banyak warga yang masih punya kebiasaan buruk membuang sisa makanan, plastik pembungkus takjil, sampai air bekas cucian langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu.
Pemandangan tumpukan plastik yang mengapung di permukaan air tentu sangat menyedihkan, apalagi Citarum sedang dalam tahap pemulihan besar-besaran. Peningkatan Limbah Rumah Tangga ini biasanya memuncak di sore hari setelah waktu berburu takjil atau saat malam hari setelah warga selesai menyantap hidangan buka puasa. Plastik sekali pakai dari bungkus kolak, es buah, dan gorengan jadi penyumbang terbesar yang bikin aliran sungai jadi mampet dan terlihat kotor. Padahal, kita semua tahu kalau kebersihan itu bagian dari iman, tapi kenyataannya masih banyak yang abai soal kesehatan lingkungan di sekitar rumahnya sendiri.
Dampak dari tumpukan sampah ini nggak cuma bikin pemandangan jadi jelek, tapi juga menimbulkan bau yang nggak sedap bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Masalah Limbah Rumah Tangga yang nggak dikelola dengan benar ini juga bisa memicu penyakit dan merusak ekosistem ikan yang ada di dalam sungai Citarum. Selain itu, kalau hujan deras turun di sore hari, sampah-sampah ini bakal terbawa arus dan menyumbat pintu-pintu air, yang ujung-ujungnya bisa bikin banjir di pemukiman warga. Jadi, niat kita mau ibadah dengan tenang malah keganggu sama bencana yang kita bikin sendiri gara-gara malas buang sampah pada tempatnya.
Pemerintah dan komunitas lingkungan sebenarnya sudah kerja keras lewat program Citarum Harum, tapi kesadaran masyarakat di tingkat rumah tangga tetap jadi kunci utama. Adanya Limbah Rumah Tangga yang masih mencemari sungai ini menunjukkan kalau edukasi soal pemilahan sampah di rumah-rumah warga masih perlu digencarkan lagi. Masyarakat perlu diajak buat mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan lebih kreatif dalam mengolah sisa makanan jadi kompos misalnya. Tanpa adanya perubahan perilaku dari tiap keluarga, anggaran sebesar apa pun buat bersihin sungai bakal terasa sia-sia karena sampahnya terus-terusan datang lagi.